Sehari bersama dirjen DeptanDirjen P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) Departemen Pertanian berkunjung ke Trenggalek. Prof.Dr.Ir.Zaenal Bachrudin,MSc,demikian nama pak dirjen P2HP,menjadi tamu pemkab Trenggalek dengan satu agenda : melihat dari dekat perkembangan MOCAF (Modified Cassava Flour),tepung ketela yang dimodifikasi.Orang biasa menyebutnya dengan tepung cassava untuk membedakan dengan tepung tapioka,yang sama-sama dari ketela.Bedanya,tepung MOCAF tidak mengalami proses diperas seperti tapioka,tapi langsung dari ketela,dikupas,dirajang dan diberi enzym,dijemur dan kemudian ditepung.
Tepung MOCAF,temuan Dr.Ahmad Subagyo (alumni Osaka University,sekarang dosen Unej) ini sekarang bisa menggantikan posisi terigu yang masih impor itu. Dengan tepung ini,konsumsi terigu nasional bisa dihemat sampai 30%. “Itu kalau kita asumsikan kebutuhan terigu kita bisa digantikan MOCAF sebanyak 30%.Misal untuk mie nstan,roti,brownies,marie,bihun dan lain-lain,” ujar Dr.Ahmad Subagyo pada suatu kesempatan. Tak heran,jika popularitas MOCAF sebagai pangan alternative semakin dilirik banyak orang,tak terkecuali pemerintah pusat. Dalam hal ini,Deptan juga sangat antusias untuk mendorong tumbuhnya industrialisasi MOCAF yang pertama kali diproduksi di Trenggalek itu. Ini dibuktikan dengan hadirnya pejabat setingkat dirjen (satu digit dibawah menteri) untuk datang langsung ke Trenggalek.
Bahkan dari obrolan saya dengan pak dirjen,tidak menutup kemungkinan menteri Pertanian Anton Apriantono bisa dijadwal berkunjung kesini. “Sebab,kita memang tengah gencar mengkampanyekan diversifikasi pangan.Jadi,kita jangan tergantung hanya pada beras atau pangan yang telah ada.Seperti Mocaf adalah terobosan yang luar biasa bagi Indonesia.Mocaf seharusnya menjadi isu nasional,” ujar pria yang terkesan santun ini.
Pak Zaenal Bahrudin berkunjung ke pabrik Mocaf di Kerjo,Karangan,meninjau klaster di Kec.Suruh yang memproduksi barang setengah jadi,dan melihat dari dekat pembuatan mesin pengering dan slicer di Bengkel milik CV.Insan Sejahtera di Tugu,yang memproduksi seluruh sarana prasarana untuk klaster.Ikut dalam kunjungan ini tentu saja,Bupati Trenggalek didampingi para staf ,Dr.Ahmad Subagyo dan kawan-kawan dari Koperasi Gemah Ripah Lohjinawi yang memproduksi Mocaf ini.Juga dari PT.BCM (Bangkit Cassava Mandiri),mitra kerja Koperasi Gemah Ripah Lohjinawi. Oh,ya,juga hadir Ir.Supeno,ketua PPNSI (Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia) Cabang Jawa Timur dan staf Kepala Dinas Pertanian Jatim,pak Yudo.
Tentunya,industry berbasis potensi lokal kayak gini yang mesti disupport oleh pemerintah.Bagaimana pendapat anda? (Mulyono Ibrahim, Trenggalek,20 Nopember 2008)
Januari 5th, 2010 at 04:01
membaca seluruh blog, cukup bagus