Pasar Cassava yang Masih Terbuka Lebar

Tak sulit menemukan lokasi PT Bangkit Cassava Mandiri (BCM). Pabrik yang menyatu dengan kantor ini berada persis di pusat Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Dari kantor Koperasi Serba Usaha Gemah Ripah Loh Jinawi hanya dipisahkan sebuah lapangan sepak bola yang ramai dimanfaatkan warga saat sore tiba.

Di tepi jalan, di depan pabrik, tampak beberapa truk penuh muatan terparkir. Itulah truk para cluster yang tengah mengantri untuk disetor ke pabrik. Di halaman pabrik sendiri, sebuah truk tengah terparkir. Beberapa pekerja pabrik dengan cekatan membongkar muatan dari dalam truk tersebut, menimbangnya dan kemudian memanggul karung-karung berisi chip menuju gudang.

Di halaman sebelah dalam, terhampar berkuintal chip yang sedang dijemur. Sedang di sebelah kanan, di teras yang tak seberapa luas, beberapa orang tampak sedang berbincang. Satu di antaranya adalah Cahyo Handriadi, salah seorang penggagas tepung Mocaf yang saat ini menjabat sebagai manajer PT BCM.

Dengan ramah, laki-laki itu menceritakan bahwa usaha tepung Mocaf yang digelutinya merupakan komoditas yang sangat potensial. Selain bahan baku yang melimpah, pasar untuk produk ini pun terbuka lebar. Potensi ketela tersebar di hampir semua kecamatan di wilayah Kabupaten Trenggalek. Sementara permintaan pasar, terutama perusahaan-perusahaan makanan, cukup besar.

Menurut Cahyo, sebenarnya pasar Mocaf mampu menampung lebih dari seribu ton produksi Mocaf per bulan. Namun saat ini PT BCM baru mampu memproduksi 100 ton Mocaf per bulan. Dengan kondisi keuangan yang sudah cukup stabil seperti saat ini, sebenarnya PT BCM tidak lagi menghadapi masalah pembayaran kepada para cluster. Masalah justru muncul karena kapasitas produksi para cluster belum seperti yang diharapkan. Sehingga mesin giling berkapasitas produksi 400 ton per bulan tersebut belum dapat dioptimalkan.

Upaya meningkatkan produksi pun saat ini gencar dilakukan oleh Koperasi melalui peningkatan kapasitas produksi para cluster maupun pembentukan cluster baru. “Kira-kira (perlu) 120 cluster untuk bisa memenuhi target 400 ton,” kata Cahyo. Itu target yang dicanangkan dalam tahun ini.

Sedangkan tahun depan, dengan target produksi minimal seribu ton per bulan, Mursito mentargetkan terdapat 255 cluster yang menjadi mitra KSU Gemah Ripah untuk memasok chip sebagai bahan baku tepung Mocaf. (am)

Menghidupi Tetangga Lewat Ketela

Mengganti terigu dengan tepung ketela. Itulah cita-cita awal Dr. Ahmad Subagio saat menggagas tepung Mocaf. Ketergantungan Indonesia terhadap tepung terigu yang hampir 100% menjadikan banyak anggaran negara tersedot ke sana. Maka seandainya 20% saja dari kebutuhan tepung terigu rakyat Indonesia dapat tergantikan oleh tepung local, maka 20% anggaran subsidi tepung terigu dapat dihemat. Demikian lontaran doktor alumni Osaka University Japan tersebut.

Lontaran ini memunculkan gagasan besar yaitu memproduksi tepung berbahan ketela pohon yang belakangan dikenal dengan nama Mocaf. Di luar pabriknya yang mengolah chip (potongan ketela yang telah dikeringkan) menjadi tepung, usaha Mocaf mampu menggerakkan perekonomian di berbagai desa.

Perendaman dengan enzym

Cahyo Handriadi, manager PT Bangkit Cassava Mandiri menuturkan, setidaknya setiap cluster atau perodusen chip (bahan baku tepung), memiliki 15 orang pekerja. Kelima belas orang tersebut terbagi dalam beberapa divisi kerja, seperti penimbangan, pengupasan, pemotongan, perendaman, dan pengeringan.

Dalam tahun ini ditargetkan setiap cluster mampu memproduksi dua ton chip per minggu. Untuk mencapai target itu berarti dibutuhkan ketela sekitar tujuh ton per cluster per minggu, dengan asumsi dari setiap ton ketela basah dapat dihasilkan 300 kilogram chip (rendemen 30%). Namun hasil 30% chip dari ketela basah ini juga sangat tergantung jenis dan mutu ketela. Ketela dari daerah yang lebih tinggi, menurut Syahri, seorang pengusaha chip, lebih bagus kualitasnya dibanding ketela dari daerah dataran rendah. Jika mendapatkan ketela yang kurang bagus, maka chip yang dihasilkan biasanya tidak sampai 30%, bahkan ada yang hanya 23%.

Agar mendapatkan hasil yang optimal, setiap ketela yang datang harus segera diolah. Sebab usia kesegaran ketela hanya sekitar tiga hari setelah dipanen. Lebih dari tiga hari ketela akan mulai membusuk dan rendemen pun semakin berkurang.

Demi mengejar kesegeraan ini, sebagian besar cluster melakukan banyak aktivitas produksinya justru pada sore hingga malam hari. Sebab pedagang ketela baru datang pada sore hari. Selanjutnya dilakukan aktivitas penimbangan, pengupasan, pencucian, pemotongan, dan perendaman. Sedang aktivitas pengeringan dilakukan pada siang hari. Meski sebagian besar pekerja Syahri perempuan, jam kerja ini tidak menjadi hambatan. Sebab semua pekerja Syahri adalah tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya.

Menurut Cahyo, dengan harga beli ketela segar Rp.500 per kilogram, dan harga chip Rp.2350 per kilogram, setiap cluster dapat memperoleh penghasilan bersih Rp.3 juta per bulan. Modal untuk usaha ini pun relatif tidak terlalu besar, terutama bagi warga Kabupaten Trenggalek. Sebab Pemerintah Daerah menyediakan bantuan bagi para cluster berupa alat pemotong ketela (slicer) seharga Rp.6 juta.

Selain alat potong tersebut, piranti utama yang dibutuhkan dalam usaha ini adalah bak pencucian dan perendaman, serta lahan untuk pengeringan atau penjemuran. Untuk penjemuran ini, Syahri menyewa lahan tetangganya karena ia tak memiliki cukup lahan.(am)

17 Responses

  1. satuhu Says:

    wah enak nih kalo study banding ga usah jauh-jauh soalnya pabrik, kantor dan koperasinya dekat-dekat.

  2. admin Says:

    silahkan Bp. satuhu datang ke trenggalek untuk study banding.
    Terimakasih.

  3. admin Says:

    konfirmasi untuk Bp. Dicky Hermono yang mengirim Email tanggal 10 agustus 2009 tidak bisa kami lanjutkan, karena Email tersebut mengandung virus. Terimakasih.

  4. Hendra Says:

    Pak, apakah air bekas cucian singkong merupakan limbah yang berbahaya (beracun, berbau dan berwarna)? Jika berbahaya, apa solusinya agar tidak mencemari lingkungan? Apakah harus membuat Bak IPAL sebelum dibuang ke saluran umum. Kira-kira berapa m3 air limbah perhari yang dibuang dari hasil pengolahan dengan kapasitas bahan baku 3 ton singkong? Terima kasih atas informasinya.

  5. admin Says:

    terimakasih untuk atensi-nya pak, perihal air bekas cucian singkong pada dasarnya tidak berbahaya terhadap lingkungan. Hanyasaja untuk limbah perendaman (fermentasi) perlu dibuatkan penampungan tertutup untuk mengurangi bau endapan saat proses pembusukan. Untuk pengolahan 3 ton singkong membutuhkan air kurang-lebih1 meter-kubik untuk pencucian, 3 meter-kubik air untuk perendaman, 3 meter-kubik air untuk penggaraman. Lebih detail bisa mengikuti agenda pelatihan kami, atau datang langsung ke Trenggalek untuk pelatihan secara personal.

  6. adie Says:

    pak saya mau penelitian di BCM boleh??

    sya mahasiswa unsoed lagi skripsi
    dan mau ambil materi tentang mocaf…

    gimana pak??

  7. Ym Huda Says:

    Menyampaikan Rasa Duka yang mendalam atas meninggalnya Bpk. Mulyono Ibrahim… semoga segala amal bisa diterima di sisi Allah swt, dan segala kesalahan terampuni….

    Ym Huda

  8. admin Says:

    Keluarga besar Koperasi Serba Usaha “GEMAH RIPAH LOH JINAWI” menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada Bpk./Sdr. Ym Huda atas do’a untuk Bpk. Mulyono Ibrahim, Alm. (Ketua Badan Pengawas), dan kami mewakili almarhum memohonkan maaf atas kekhilafan almarhum.

  9. admin Says:

    Kepada Sdr. Adie kami sampaikan terimakasih atas pilihan penelitiannya tentang MOCAF.

    Untuk penelitian silakan saudara kirimkan proposal kepada kami Koperasi Serba Usaha “GEMAH RIPAH LOH JINAWI” Desa Kerjo, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek atau kepada PT Bangkit Cassava Mandiri (BCM)

    Demikian dari kami semoga bermanfaat.

  10. fatim Says:

    pak bisa minta dikirim email analisa usaha dari usaha pembuatan tepung singkong ini dari usaha clusternya dan sampai pada tahap penepungannya.trims.

  11. admin Says:

    Terimakasih kami sampaikan kepada Bpk. Fatim atas atensinya terhadap tepung cassava fermentasi/MOCAF/MOCAL/MOKAF.
    Perihal analisa usaha dari pembuatan tepung mocaf sangat tergantung oleh kapasitas produksi dan spesifikasi peralatan/mesin yang akan dipakai. Lebih detail bisa langsung datang ke Koperasi Serba Usaha “GEMAH RIPAH LOH JINAWI” Trenggalek.
    Demikan dari kami semoga bermanfaat dan berlanjut dalam kerjasama.

  12. Yati Says:

    Pak, saya tertarik untuk ikut memproduksi mocaf melihat pasar yang ada sangat menjanjikan. Bagaimana caranya saya bisa memperoleh enzim fermentasi chip tersebut? kalau membeli, dimana bisa membelinya dan berapa harganya. Kalau membuat sendiri enzim tersebut apa boleh? bagaimana proses dan perizinannya? terima kasih, saya tunggu info dari bapak.

  13. admin Says:

    Terimakasih kami sampaikan atas kepercayaannya kepada kami, KSU “GEMAH RIPAH LOH JINAWI”.

    Usaha produksi mocaf dimulai dari produksi chips mocaf, yang mana memerlukan pelatihan. Untuk itu silakan datang ke Trenggalek untuk membicarakan detailnya.

    Demikian dari kami semoga bermanfaat.

  14. Ardi Arifin Says:

    Dear Admin,
    Apakah pada saat ini ada semacam SNI untuk Mocaf? Jika tidak ada, apa yg harus kita perhatikan ketika membeli tepung Mocaf? Apakah cukup dari segi warna (putih) dan kadar kotoran (bersih) saja cukup? Terima kasih.

  15. gandhi Says:

    berapa harga tepung dan kegunaannya yg tepat untuk apa? apakah tepung tsb lebih baik dari tapioka,gaplek

  16. admin Says:

    Terimakasih untuk Yth. Gandhi atas perhatiannya pada mocaf.
    Harga saat ini yang sewaktu-waktu berubah Rp. 4.500/kg dan Rp. 100.000/zak/25kg.
    Untuk produk jajanan yang bagus saat ini Brownies Kukus/Panggang.
    Jika dibandingkan dengan tapioka dan gaplek tentu sangat tergantung yang akan menggunakannya.
    Demikian dari kami.

  17. juan Says:

    “kerjasama pembuatan chips mocaf”
    sy tertarik dengan kerja sama ini kira2 apa syarat, standar dan jumlahnya serta berapa harga chips per kg atau per tonnya ?, mohon petunjuknya, terima kasih. 085228880080

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.