<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MOCAF INDONESIA</title>
	<atom:link href="http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mocaf-indonesia.com</link>
	<description>Koperasi Gemah Ripah Loh Jinawi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Mar 2010 13:50:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kunjungan Menteri Pertanian ke Koperasi Gemah Ripah Loh Jinawi</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=98</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=98#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 03:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Dari situs resmi Departemen Pertanian Republik Indonesia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">TRENGGALEK &#8211; Bertempat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 24 Nopember 2009, yang lalu Menteri Pertanian Ir.Suswono, MMA melakukan &#8220;Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional&#8221;.  Acara ini antara lain dihadiri oleh para pimpinan daerah penerima bantuan kegiatan pengembangan agroindustri tepung-tepungan, Ibu-ibu penggerak PKK, Gapoktan, pelaku usaha tepung dan undangan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengawali sambutannya, Menteri Pertanian mengatakan bahwa Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional ini sangat strategis dalam upaya mendorong peningkatan pembangunan agroindustri tepung-tepungan nasional, terutama peningkatan produksi tepung fermentasi yang saat ini mulai kembali digemari oleh masyarakat. Pencanangan ini diharapkan dapat mengawali peningkatan tambahan produksi tepung sekitar 20% dari kebutuhan impor nasional selama lima tahun ke depan. Mentan menjelaskan bahwa pada tahun 2008, impor gandum kita mencapai 5,2 juta ton.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dari 22,7 juta ton produksi ubi kayu, yang diolah menjadi bahan pangan dan non pangan baru mencapai 22,3% atau setara dengan 4,6 juta ton ubikayu segar. Hal ini berarti peluang pasar untuk tepung dari ubi kayu masih cukup besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mendukung kemandirian pangan dan daya saing produk lokal tersebut, pemerintah telah memberlakukan pengetatan pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan melalui PERMENTAN No. 27 Tahun 2009 yang berlaku efektif sejak 19 Nopember 2009. Dengan diberlakukannya peraturan ini, maka komoditas impor yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan serta tidak aman untuk dikonsumsi, ditolak masuk ke Indonesia.  Adapun komoditas yang terkena peraturan ini antara lain gandum, jagung, kacang-kacangan dan beberapa serealia lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Komitmen Pemerintah dalam mengembangkan pangan nonberas, antara lain melalui berbagai kebijakan seperti mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keanekaragaman pangan; dan mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras dan non terigu. Adapun beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung cassava antara lain berupa pemberikan stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha kecil bidangpangan; sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan pangan lokal melalui tepung-tepungan; pemberian peralatan pengolahan tepung-tepungan kepada usaha kecil bidang pangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung yang dihasilkan; mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam meneruskan sosialisasi dan pengembangan teknologi tepung-tepungan; dan terus mengupayakan pencitraan tepung cassava menjadi tepung nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan kunjungan kerja tersebut, Mentan menyerahkan sarana pengolahan tepung, antara lain berupa peralatan, starter(inokulan) fermentasi dan sarana bangunan secara simbolis kepada para bupati yang wilayahnya mendapat alokasi bantuan pada tahun anggaran 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Menteri Pertanian juga menegaskan, kita harus mampu mempertahankan keberhasilan swasembada beras, dan kesanggupan negara kita memenuhi sebagian dari permintaan beras internasional, sekaligus menjadikan momentum ini untuk mencapai keberhasilan dalam upaya pengembangan agribisnis ubi kayu, khususnya di bidang pengolahan dan pemasaran hasil yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sentra-sentra produksi ubi kayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengakhiri kata sambutannya, Menteri Pertanian menegaskan pentingnya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya, akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan agribisnis tepung-tepungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=98</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PELUANG PENGEMBANGAN TEPUNG MOCAF</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=67</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=67#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 06:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Tepung MOCAF sebagai bahan alternatif pengganti terigu mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Dari sisi permintaan, kebutuhan akan pasar terigu kian meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang kian modern. Demikian juga dengan semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan, dari skala besar sampai penjual eceran, terutama sejak krisis ekonomi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepung MOCAF sebagai bahan alternatif pengganti terigu mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Dari sisi permintaan, kebutuhan akan pasar terigu kian meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang kian modern. Demikian juga dengan semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan, dari skala besar sampai penjual eceran, terutama sejak krisis ekonomi 1998.<br />
<span id="more-67"></span><br />
Sementara dari sisi pasokan, tepung MOCAF yang berbahan baku ubi kayu, salah satu tanaman pangan yang secara tradisional sudah lama dikembangkan di Indonesia, juga mempunyai potensi yang cukup besar. Luasnya lahan yang potensial untuk ditanami ubi kayu (karena kesesuaian geografis), kemudahan teknik budidaya, serta jumlah tenaga kerja yang bisa digerakkan, membuat tidak terlalu ada masalah dari sisi pasokan.</p>
<p>Keinginan konsumen terhadap produk pangan yang diwujudkan dalam mutu produk tidak hanya mencakup nutrisi, tetapi juga mencakup keamanan, kemudahan pemakaian, dan imajinatif. Pangan tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Dengan adanya pergeseran paradigma tersebut, maka tuntutan konsumen menjadi semakin penting dan menentukan perkembangan teknologi (arah dan jenisnya) serta inovasi makanan yang tersedia di pasar (Wirakartakusumah,1997). </p>
<p>Masyarakat cenderung tertarik pada produk pangan yang praktis dalam penyajiaannya, dan terkesan lebih modern, seperti produk mie, roti, makanan ringan, baby foods dan sebagainya. Perubahan pola konsumsi makanan (food habit) ini menyebabkan kebutuhan akan bahan pangan berbasis tepung-tepungan meningkat pesat, salah satunya yang paling besar konsumsinya adalah tepung terigu.</p>
<p>Kebutuhan tepung secara nasional terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari tahun 1995 sampai dengan 2004, konsumsi terigu nasional untuk berbagai industri terus mengalami pertumbuhan, kecuali pada tahun 1998 yang pertumbuhannya negatif, karena krisis ekonomi. Selama kurun tersebut pertumbuhan rata-rata sebesar 5.84% per tahun, dan bahkan mencapai sekitar 7.00% pada lima tahun terakhir. Dengan pertumbuhan tersebut, konsumsi tepung terigu nasional mencapai lebih 1,7 juta ton per tahun pada tahun 2004. </p>
<p>Sementara itu, data dari Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) justru menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Menurut Aptindo, kebutuhan konsumsi terigu nasional pada tahun 2004 mencapai 3.334.108 ton, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 6 %. Dengan angka pertumbuhan ini, maka pada tahun 2007 kebutuhan tepung terigu akan meningkat sampai 3.700.000 ton. Dari konsumsi ini, 65 persen adalah pasar Usaha Kecil dan Menengah, dengan penggunaan terbesar untuk produk mie (instant dan wet).</p>
<p>Peningkatan kebutuhan akan terigu ini selain dipicu oleh perubahan pola konsumsi masyarakat, juga dipicu oleh menjamurnya usaha pengolahan makanan, terutama pasca krisis ekonomi 1998. Kebutuhan modal kerja yang tidak terlalu besar, ditambah dengan tingginya permintaan akan produk makanan olahan membuat usaha pengolahan makanan, khususnya usaha kecil dan yang bersifat cepat saji semakin menjamur. </p>
<p>Sementara itu permintaan yang semakin meningkat ini ternyata tidak diimbangi oleh ketersediaan bahan baku yang memadai. Jenis tepung terigu yang selama ini beredar di pasaran sebagian besar adalah berbahan baku gandum. Padahal, gandum adalah jenis tanaman sub-tropik, yang tidak terlalu sesuai dengan iklim dan kondisi geografis di Indonesia. Meskipun sudah seringkali diupayakan, namun sampai sekarang belum ada upaya budidaya gandum yang bisa berkembang secara ekonomis.</p>
<p>Hal ini membuat ketergantungan industri tepung nasional terhadap bahan baku impor sangat besar. Akibatnya ketika harga gandum di pasar impor meningkat tajam akibatnya tingginya permintaan pasar dunia akan produk pangan biji-bijian, membuat harga tepung didalam negeri juga meningkat tajam. Tabel 3.3. menunjukkan peningkatan harga terigu sebesar 60% selama kurun 2006-2007, dan diperkirakan masih akan berlanjut sampai akhir 2008. </p>
<p>Situasi ini mengakibatkan berbagai dampak negatif terhadap industri makanan didalam negeri. Banyak industri pengolahan makanan besar yang harus menunda rencana pengembangan usaha, bahkan membatalkan rencana investasi. Sementara industri yang lebih kecil skalanya banyak yang nasibnya lebih tidak beruntung, sehingga mereka harus menutup usahanya karena tidak mampu mensiasati kenaikan biaya produksi ini.</p>
<p>Karena itu, keberadaan tepung MOCAF sebagai alternatif dari tepung terigu, akan bermanfaat bagi industri pengolahan makanan nasional. Jenis dan karakteristik yang hampir sama dengan terigu, namun dengan harga yang jauh lebih murah membuat tepung MOCAF menjadi pilihan yang sangat menarik. Berbagai jenis produk olahan tepung terigu yang bisa digantikan oleh tepung MOCAF, juga membuat transisi pengguna kepada tepung MOCAF tidak sulit untuk dilakukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=67</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKILAS TENTANG MOCAF</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=58</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=58#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 06:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip dasar pembuatan tepung MOCAF adalah dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubikayu sedemikian rupa sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prinsip dasar pembuatan tepung MOCAF adalah dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubikayu sedemikian rupa sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut.<br />
Selanjutnya granula pati tersebut akan mengalami hidrolisis yang menghasilkan monosakarida sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam-asam organik. Senyawa asam ini akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan tersebut diolah akan dapat menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang dapat menutupi aroma dan citarasa ubi kayu yang cenderung tidak menyenangkan konsumen.<br />
<span id="more-58"></span><br />
Selama proses fermentasi terjadi pula penghilangan komponen penimbul warna, seperti pigmen (khususnya pada ketela kuning), dan protein yang dapat menyebabkan warna coklat ketika pemanasan. Dampaknya adalah warna MOCAF yang dihasilkan lebih putih jika dibandingkan dengan warna tepung ubi kayu biasa. Selain itu, proses ini akan menghasilkan tepung yang secara karakteristik dan kualitas hampir menyerupai tepung dari terigu. Sehingga produk MOCAF sangat cocok untuk menggantikan bahan terigu untuk kebutuhan industri makanan.</p>
<p>Kondisi saat ini menunjukkan bahwa produk MOCAF secara ekonomis ternyata jauh lebih murah daripada produk terigu yang selama ini beredar di pasaran. Bahan baku yang mudah dibudidayakan, murahnya harga ubi kayu di pasaran saat ini, serta proses pengolahan tepung yang tidak memerlukan teknologi tinggi, membuat harga MOCAF saat ini hanya berkisar antara 40-60 persen dari harga terigu. Hal ini membuat produk jadi apapun yang dihasilkan dari MOCAF ini akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan tepung terigu.</p>
<p>Selama ini penggunaan tepung ubi kayu biasa karena kualitasnya, masih sangat terbatas. Untuk food ingredient misalnya, seperti substitusi terigu sebesar 5% pada mie instant yang menghasilkan produk dengan mutu rendah, atau pada kue kering. Namun aplikasi tepung MOCAF dengan karakteristik yang dijelaskan diatas, ternyata mampu menghasilkan produk makanan yang sangat menggembirakan.</p>
<p>Hasilnya ujicoba menunjukkan MOCAF dapat digunakan sebagai food ingredient dengan penggunaan yang sangat luas. MOCAF ternyata tidak hanya bisa dipakai sebagai bahan pelengkap, namun dapat langsung digunakan sebagai bahan baku dari berbagai jenis makanan, mulai dari mie, bakery, cookies hingga makanan semi basah. Dengan sedikit perubahan dalam formula, atau prosesnya, karena produk ini tidak-lah sama persis karakteristiknya dengan tepung terigu, beras atau yang lainnya, dapat dihasilkan produk yang bermutu optimal.<br />
Kue brownish, kue kukus dan spongy cake dapat dibuat dengan berbahan baku 100% MOCAF sebagai tepungnya. Produk yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan produk yang dibuat menggunakan tepung terigu tipe berprotein rendah (soft wheat). Sebagai produk yang pengembangan volumenya berdasarkan kocokan telur, maka tidaklah sulit bagi MOCAL untuk mengganti tepung terigu tersebut.</p>
<p>Untuk cita rasanya, hasil uji organoleptik dengan resep standar menunjukkan bahwa panelis tidak mengetahui bahwa kue-kue tersebut dibuat dari MOCAF yang berasal dari ubi kayu. Kue-kue berbahan baku MOCAF ini mempunyai ketahanan terhadap dehidrasi yang tinggi, sehingga mampu disimpan dalam 3-4 hari tanpa perubahan tekstur yang berarti.</p>
<p>MOCAF juga telah diujicoba untuk digunakan beragam kue kering, seperti cookies, nastar, dan kastengel, dimana 100% tepungnya menggunakan MOCAF. Hasilnya menunjukkan bahwa kue kering yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan produk yang dibuat menggunakan tepung terigu tipe berprotein rendah (soft wheat). Hanya saja, MOCAF memerlukan mentega atau margarin sedikit lebih banyak dibandingkan tepung terigu untuk mendapatkan tekstur yang baik. Untuk cita rasanya, hasil uji organoleptik dengan resep standar menunjukkan bahwa panelis tidak mengetahui bahwa kue-kue tersebut dibuat dari MOCAF yang berasal dari ubi kayu.</p>
<p>Untuk kue basah, telah diujicoba aplikasi MOCAF pada kue lapis tradisional yang umumnya berbahan baku tepung beras, atau tepung terigu dengan ditambah tapioka. Hasilnya menunjukkan bahwa MOCAF dapat menggantikan tepung beras maupun tepung terigu 100%. Kue lapis yang dihasilkan bertekstur lembut dan tidak keras. Hasil ini menunjukkan bahwa MOCAF dapat pula menggantikan tepung beras yang saat ini kian mahal.</p>
<p>Disamping itu, telah juga dilakukan uji coba substitusi tepung terigu dengan MOCAF dengan skala pabrik. Hasilnya menunjukkan bahwa hingga 15% MOCAF dapat mensubstitusi terigu pada mie dengan mutu baik, dan hingga 25% untuk mie berkelas rendah, baik dari mutu fisik maupun organoleptik. Secara teknispun, proses pembuatan mie tidak mengalami kendala yang berarti jika MOCAF digunakan untuk mensubstitusi terigu.</p>
<p>Alternatif aplikasi MOCAF sebagai food ingredient yang lain adalah penggunaannya pada makanan bayi. Dengan sifat-sifat yang dimiliki bahan ini, secara teknis tidaklah sulit untuk mengaplikasikan pada produk ini. Namun demikian, mengingat makanan bayi mempunyai spesifikasi yang khusus maka diperlukan kajian yang cermat agar hal ini terwujud, misalnya: kajian tentang oligosakarida penyebab flatulensi yang diramalkan sudah terpecahkan selama fermentasi. Kajian ini penting sehingga bayi tidak mengalami kembung ketika mengkonsumsi produk ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=58</wfw:commentRss>
		<slash:comments>82</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Cassava yang Masih Terbuka Lebar</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=38</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=38#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 23:54:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Tak sulit menemukan lokasi PT Bangkit Cassava Mandiri (BCM). Pabrik yang menyatu dengan kantor ini berada persis di pusat Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Dari kantor Koperasi Serba Usaha Gemah Ripah Loh Jinawi hanya dipisahkan sebuah lapangan sepak bola yang ramai dimanfaatkan warga saat sore tiba.
Di tepi jalan, di depan pabrik, tampak beberapa truk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak sulit menemukan lokasi PT Bangkit Cassava Mandiri (BCM). Pabrik yang menyatu dengan kantor ini berada persis di pusat Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Dari kantor Koperasi Serba Usaha Gemah Ripah Loh Jinawi hanya dipisahkan sebuah lapangan sepak bola yang ramai dimanfaatkan warga saat sore tiba.<span id="more-38"></span></p>
<p>Di tepi jalan, di depan pabrik, tampak beberapa truk penuh muatan terparkir. Itulah truk para cluster yang tengah mengantri untuk disetor ke pabrik. Di halaman pabrik sendiri, sebuah truk tengah terparkir. Beberapa pekerja pabrik dengan cekatan membongkar muatan dari dalam truk tersebut, menimbangnya dan kemudian memanggul karung-karung berisi chip menuju gudang.</p>
<p>Di halaman sebelah dalam, terhampar berkuintal chip yang sedang dijemur. Sedang di sebelah kanan, di teras yang tak seberapa luas, beberapa orang tampak sedang berbincang. Satu di antaranya adalah Cahyo Handriadi, salah seorang penggagas tepung Mocaf yang saat ini menjabat sebagai manajer PT BCM.</p>
<p>Dengan ramah, laki-laki itu menceritakan bahwa usaha tepung Mocaf yang digelutinya merupakan komoditas yang sangat potensial. Selain bahan baku yang melimpah, pasar untuk produk ini pun terbuka lebar. Potensi ketela tersebar di hampir semua kecamatan di wilayah Kabupaten Trenggalek. Sementara permintaan pasar, terutama perusahaan-perusahaan makanan, cukup besar.</p>
<p>Menurut Cahyo, sebenarnya pasar Mocaf mampu menampung lebih dari seribu ton produksi Mocaf per bulan. Namun saat ini PT BCM baru mampu memproduksi 100 ton Mocaf per bulan. Dengan kondisi keuangan yang sudah cukup stabil seperti saat ini, sebenarnya PT BCM tidak lagi menghadapi masalah pembayaran kepada para cluster. Masalah justru muncul karena kapasitas produksi para cluster belum seperti yang diharapkan. Sehingga mesin giling berkapasitas produksi 400 ton per bulan tersebut belum dapat dioptimalkan.</p>
<p>Upaya meningkatkan produksi pun saat ini gencar dilakukan oleh Koperasi melalui peningkatan kapasitas produksi para cluster maupun pembentukan cluster baru. “Kira-kira (perlu) 120 cluster untuk bisa memenuhi target 400 ton,” kata Cahyo. Itu target yang dicanangkan dalam tahun ini.</p>
<p>Sedangkan tahun depan, dengan target produksi minimal seribu ton per bulan, Mursito mentargetkan terdapat 255 cluster yang menjadi mitra KSU Gemah Ripah untuk memasok chip sebagai bahan baku tepung Mocaf. (am)</p>
<p><strong>Menghidupi Tetangga Lewat Ketela</strong></p>
<p>Mengganti terigu dengan tepung ketela. Itulah cita-cita awal Dr. Ahmad Subagio saat menggagas tepung Mocaf. Ketergantungan Indonesia terhadap tepung terigu yang hampir 100% menjadikan banyak anggaran negara tersedot ke sana. Maka seandainya 20% saja dari kebutuhan tepung terigu rakyat Indonesia dapat tergantikan oleh tepung local, maka 20% anggaran subsidi tepung terigu dapat dihemat. Demikian lontaran doktor alumni Osaka University Japan tersebut.</p>
<p>Lontaran ini memunculkan gagasan besar yaitu memproduksi tepung berbahan ketela pohon yang belakangan dikenal dengan nama Mocaf. Di luar pabriknya yang mengolah chip (potongan ketela yang telah dikeringkan) menjadi tepung, usaha Mocaf mampu menggerakkan perekonomian di berbagai desa.</p>
<p><strong>Perendaman dengan enzym</strong></p>
<p>Cahyo Handriadi, manager PT Bangkit Cassava Mandiri menuturkan, setidaknya setiap cluster atau perodusen chip (bahan baku tepung), memiliki 15 orang pekerja. Kelima belas orang tersebut terbagi dalam beberapa divisi kerja, seperti penimbangan, pengupasan, pemotongan, perendaman, dan pengeringan.</p>
<p>Dalam tahun ini ditargetkan setiap cluster mampu memproduksi dua ton chip per minggu. Untuk mencapai target itu berarti dibutuhkan ketela sekitar tujuh ton per cluster per minggu, dengan asumsi dari setiap ton ketela basah dapat dihasilkan 300 kilogram chip (rendemen 30%). Namun hasil 30% chip dari ketela basah ini juga sangat tergantung jenis dan mutu ketela. Ketela dari daerah yang lebih tinggi, menurut Syahri, seorang pengusaha chip, lebih bagus kualitasnya dibanding ketela dari daerah dataran rendah. Jika mendapatkan ketela yang kurang bagus, maka chip yang dihasilkan biasanya tidak sampai 30%, bahkan ada yang hanya 23%.</p>
<p>Agar mendapatkan hasil yang optimal, setiap ketela yang datang harus segera diolah. Sebab usia kesegaran ketela hanya sekitar tiga hari setelah dipanen. Lebih dari tiga hari ketela akan mulai membusuk dan rendemen pun semakin berkurang.</p>
<p>Demi mengejar kesegeraan ini, sebagian besar cluster melakukan banyak aktivitas produksinya justru pada sore hingga malam hari. Sebab pedagang ketela baru datang pada sore hari. Selanjutnya dilakukan aktivitas penimbangan, pengupasan, pencucian, pemotongan, dan perendaman. Sedang aktivitas pengeringan dilakukan pada siang hari. Meski sebagian besar pekerja Syahri perempuan, jam kerja ini tidak menjadi hambatan. Sebab semua pekerja Syahri adalah tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya.</p>
<p>Menurut Cahyo, dengan harga beli ketela segar Rp.500 per kilogram, dan harga chip Rp.2350 per kilogram, setiap cluster dapat memperoleh penghasilan bersih Rp.3 juta per bulan. Modal untuk usaha ini pun relatif tidak terlalu besar, terutama bagi warga Kabupaten Trenggalek. Sebab Pemerintah Daerah menyediakan bantuan bagi para cluster berupa alat pemotong ketela (slicer) seharga Rp.6 juta.</p>
<p>Selain alat potong tersebut, piranti utama yang dibutuhkan dalam usaha ini adalah bak pencucian dan perendaman, serta lahan untuk pengeringan atau penjemuran. Untuk penjemuran ini, Syahri menyewa lahan tetangganya karena ia tak memiliki cukup lahan.(am)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=38</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Singkong Bernilai Tinggi</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=32</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 23:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Tepung Mocaf (Modified Cassava Fluor), tak bisa dilepaskan dari keberadaan Koperasi Serba Usaha (KSU) Gemah Ripah Loh Jinawi yang berdiri pada 13 Januari 2006. Koperasi ini memang didirikan sebagai wadah industri Mocaf. Tak heran bila pada awalnya ia menaungi segala aktivitas berkaitan dengan produksi tepung tersebut. Mulai dari pengumpulan bahan baku ketela pohon, produksi enzyme, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepung Mocaf (Modified Cassava Fluor), tak bisa dilepaskan dari keberadaan Koperasi Serba Usaha (KSU) Gemah Ripah Loh Jinawi yang berdiri pada 13 Januari 2006. Koperasi ini memang didirikan sebagai wadah industri Mocaf. Tak heran bila pada awalnya ia menaungi segala aktivitas berkaitan dengan produksi tepung tersebut. Mulai dari pengumpulan bahan baku ketela pohon, produksi enzyme, pemrosesan, hingga pemasaran.<span id="more-32"></span></p>
<p>Bulan Agustus 2006, aktivitas produksi pertama kali dimulai melibatkan lebih dari 50 orang pekerja yang sebagian besar perempuan (Profil Usaha Mocaf KSU Gemah Ripah Loh Jinawi). Pada tahap awal ini, baru mampu diproduksi sekitar 6,2 ton tepung Mocaf per bulan. Meski kemampuan produksi masih sangat kecil, setidaknya KSU Gemah Ripah pada saat itu mampu menunjukkan pada pihak luar bahwa dari bahan ketela pohon dapat dihasilkan tepung berkualitas bagus dan tak kalah dari terigu.</p>
<p>Tahun 2007 produksi sempat terhenti karena terkendala modal dan datangnya musim penghujan, sehingga menghambat proses pengeringan bahan. Masuknya dua investor membuat usaha Mocaf ini kembali mengeliat. Kelerlibatan Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek yang memberikan bantuan slicer (alat pemotong ketela) juga menjadikan ketersediaan bahan baku tepung lebih terjamin.</p>
<p>Pada periode ini, KSU Gemah Ripah tidak lagi menjalankan keseluruhan rantai produksi. Ia hanya bertugas menggiling chip (potongan ketela pohon yang telah direndam dengan enzyme dan dikeringkan) menjadi tepung, mengemas, dan memasarkan. Sedangkan bahan baku tepung berupa chip diserahkan produksinya kepada kelompok usaha atau perorangan yang tersebar di beberapa desa di wilayah Trenggalek. Produsen chip yang berposisi sebagai mitra KSU Gemah Ripah ini biasa disebut dengan cluster.</p>
<p>Kurang lebih satu setelah diterapkannya sistem ini, produksi Mocaf kembali menghadapi persoalan. Lagi-lagi yang muncul adalah soal permodalan. Saat itu Koperasi harus membayar secara kontan chip yang disetor oleh para cluster. Sementara pembeli Mocaf baru membayar sebulan setelah produk dikirimkan. Akibatnya pembelian chip oleh Koperasi kepada cluster tersendat.</p>
<p>Persoalan ini menjadikan Koperasi lebih banyak belajar. Tak hanya soal teknis berupa pengeringan chip yang sering terhambat pada musim penghujan, tetapi juga soal manajemen. Jika dalam hal teknis Koperasi bekerja sama dengan Pemda Trenggalek memproduksi mesin pengering yang dibagikan pada para cluster, maka dalam hal manajemen Koperasi mengundang investor PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Agro. Dari kerja sama KSU Gemah Ripah dan PT TPS Agro inilah, lahir PT Bangkit Cassava Mandiri (BSM) yang kemudian menggantikan peran Koperasi sebagai pelaksana produksi tepung Mocaf. Dengan kehadiran PT BCM, Koperasi saat ini lebih menitikberatkan fungsinya sebagai pendamping cluster di samping menangani ketersediaan enzim dan urusan simpan-pinjam anggota maupun para clusternya. Selain itu Koperasi juga bertanggung jawab memperkenalkan tepung Mocaf ini kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan, salah satunya pameran.</p>
<p>Hingga awal Mei 2009 terdapat 34 cluster yang aktif berproduksi dan merupakan mitra KSU Gemah Ripah. Ke-34 cluster ini tersebar di berbagai desa di wilayah Kabupaten Trenggalek. Menurut Mursito, salah seorang pengurus KSU Gemah Ripah, sebagian cluster ini merupakan anggota maupun pengurus Koperasi. Sebagian lagi adalah masyarakat bukan anggota Koperasi yang telah mendapat pelatihan dan pendampingan dari Koperasi.(am)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=32</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegelisahan Yang Mendapat Pelepasan</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=30</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=30#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 23:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Tepung berbahan baku singkong, seperti tepung tapioka dan tepung gaplek sudah dikenal orang sejak lama. Dua macam tepung ini merupakan olahan lebih lanjut dari singkong yang bertujuan mengawetkan serta memberi nilai lebih. Meski tujuan pengawetannya tercapai, tetapi kedua jenis tepung tersebut tidak dikonsumsi masyarakat dalam jumlah besar.
Karakter kedua tepung yang sangat spesifik menjadikan pemanfaatannya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepung berbahan baku singkong, seperti tepung tapioka dan tepung gaplek sudah dikenal orang sejak lama. Dua macam tepung ini merupakan olahan lebih lanjut dari singkong yang bertujuan mengawetkan serta memberi nilai lebih. Meski tujuan pengawetannya tercapai, tetapi kedua jenis tepung tersebut tidak dikonsumsi masyarakat dalam jumlah besar.<span id="more-30"></span></p>
<p>Karakter kedua tepung yang sangat spesifik menjadikan pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sangat terbatas. Misalnya tepung tapioka yang jika dicampur air dan dipanaskan menjadi lengket, biasanya hanya menjadi tambahan bahan lain untuk menghasilkan adonan dengan sifat tertentu. Begitu juga tepung gaplek. Masyarakat biasanya menjadikan tepung ini sebagai tambahan bahan lain, seperti tepung terigu, karena aroma dan rasanya yang “langu”.</p>
<p>Dua macam turunan tersebut ternyata belum mampu melepaskan ketela dari stigma “komoditas pinggiran”. Akibatnya harga ketela tak pernah beranjak, sekalipun harga kebutuhan lain termasuk jenis makanan pokok yang lain terus merambat naik. Bahkan pada saat ketela banyak dicari orang untuk berbagai bahan baku industri harga komoditas tersebut tidak mengalami peningkatan. Padahal dengan ditemukannya beragam kandungan dalam ketela yang dibutuhkan oleh industri, kebutuhan industri akan ketela mengalami peningkatan. Terlebih ketika terjadi krisis bahan bakar fosil dan energi alternatif mulai mendapat angin segar untuk dikembangkan di negeri ini.</p>
<p>Tetap rendahnya harga ketela di tingkat petani, mengakibatkan petani ketela (petani di daerah kering, tak terjangkau saluran irigasi) tak dapat menikmati keuntungan yang dicecap oleh pihak yang mengembangkan produk berbahan ketela. Akibatnya tingkat kesejahteraan mereka pun tidak pernah beranjak. Bahkan cenderung semakin menurun akibat terus melonjaknya harga kebutuhan dasar.</p>
<p>Meski demikian, sebagian besar petani ini tetap bertahan dengan ketela. Hal ini disebabkan ketela adalah jenis tanaman yang mudah tumbuh, di daerah kering sekalipun. Maka sekalipun harga dua puluh kilogram ketela hanya setara dengan harga satu kilogram beras, ketela tetap menjadi tanaman andalan. Petani di Kabupaten Trenggalek, sebuah kabupaten di bagian barat-selatan Jawa Timur, menghadapi kondisi serupa. Dengan 70% wilayah yang merupakan pegunungan kapur, ketela merupakan komoditas melimpah di kabupaten ini.</p>
<p>Kondisi demikian membuat Mulyono Ibrahim, seorang tokoh muda Trenggalek, merasa gelisah. Sebagai seorang penggerak masyarakat, ia merasa terpanggil melakukan sesuatu untuk perbaikan kondisi masyarakat khususnya di wilayah Trenggalek. Kegelisahaan tersebut pada tahun 2005 mendapatkan pelepasan saat bertemu dengan Dr. Ahmad Subagio, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember yang memaparkan tentang Modified Cassava Flour (Mocaf) dalam sebuah seminar pangan. Doktor lulusan Osaka University Japan ini melalui penelitiannya menemukan enzym yang mampu menghilangkan aroma dan rasa “langu” pada ketela.</p>
<p>Bersama Cahyo Handriadi dan Dr. Subagio, Mulyono kemudian melahirkan gagasan pengembangan tepung ketela modifikasi atau yang dikenal dengan Mocaf di Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.(am)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=30</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tepung Mocaf sebagai Substitusi Terigu</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=40</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 23:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Tepung Mocaf yang dikenal sebagai tepung ketela alternatif pengganti terigu, kini telah banyak diproduksi di daerah Trenggalek, Jawa Timur dan juga Sumatra Barat. Saat ini Sumatera Barat telah bersiap memproduksi tepung mocaf. Di daerah tersebut, ketersediaan singkong bahan baku yang berlimpah dan pasar lokalnya sangat prospektif.
Koperasi &#8220;Gemah Ripah Loh Jinawi&#8221; Trenggalek yang memproduksi Mocaf, saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepung Mocaf yang dikenal sebagai tepung ketela alternatif pengganti terigu, kini telah banyak diproduksi di daerah Trenggalek, Jawa Timur dan juga Sumatra Barat. Saat ini Sumatera Barat telah bersiap memproduksi tepung mocaf. Di daerah tersebut, ketersediaan singkong bahan baku yang berlimpah dan pasar lokalnya sangat prospektif.<br />
Koperasi &#8220;Gemah Ripah Loh Jinawi&#8221; Trenggalek yang memproduksi Mocaf, saat ini kapasitasnya mencapai 100 ton per bulan. Sedangkan permintaaan pasar nasional mencapai lebih dari 1000 ton per bulan. Di masa mendatang, diharapkan bermunculan beberapa pabrik yang siap memproduksi mocaf ini.<span id="more-40"></span></p>
<p>Ketua Umum Gabungan Koperasi Tepung Rakyat Indonesia (Gakoptri) Samsul Hadi mengatakan upaya mengembangkan produksi mocaf ini sudah dirintis oleh tiga pihak, yakni Diskoperindag, petani singkong sebagai produsen tepung, dan industri kue/roti. &#8220;Ujicoba penggunaan tepung mocal untuk makanan tradisional minang juga oke, seperti arai pinang, dan lainnya,&#8221; ujar Samsul Hadi.</p>
<p>Mocaf adalah produk tepung dari ubi kayu yang diproses dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu sehingga hasilnya berbeda dengan tepung gaplek ataupun tepung ubi kayu.<br />
Mocaf dapat digunakan untuk membuat kue kering seperti cookies, nastar, dan kaastengel, kue basah seperti kue lapis, brownies, spongy, dan cake, bihun, dan campuran produk lain berbahan baku gandum atau tepung beras, dengan karakteristik produk yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan penggunaan tepung terigu maupun tepung beras.</p>
<p>Ada beberapa keunggulan jenis tepung ini, seperti bahan baku yang tersedia cukup sehingga kemungkinan kelangkaan produk dapat dihindari karena tidak tergantung dari impor seperti gandum. Selain itu harga tepung mocaf relatif lebih murah dibanding dengan harga tepung terigu maupun tepung beras, sehingga biaya pembuatan produk dapat lebih rendah. (ap)</p>
<p>Dari : http://www.technologyindonesia.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehari Bersama Dirjen PH2P Deptan</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=45</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=45#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 00:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Sehari bersama dirjen DeptanDirjen P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) Departemen Pertanian berkunjung ke Trenggalek. Prof.Dr.Ir.Zaenal Bachrudin,MSc,demikian nama pak dirjen P2HP,menjadi tamu pemkab Trenggalek dengan satu agenda : melihat dari dekat perkembangan MOCAF (Modified Cassava Flour),tepung ketela yang dimodifikasi.Orang biasa menyebutnya dengan tepung cassava untuk membedakan dengan tepung tapioka,yang sama-sama dari ketela.Bedanya,tepung MOCAF tidak mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehari bersama dirjen DeptanDirjen P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) Departemen Pertanian berkunjung ke Trenggalek. Prof.Dr.Ir.Zaenal Bachrudin,MSc,demikian nama pak dirjen P2HP,menjadi tamu pemkab Trenggalek dengan satu agenda : melihat dari dekat perkembangan MOCAF (Modified Cassava Flour),tepung ketela yang dimodifikasi.Orang biasa menyebutnya dengan tepung cassava untuk membedakan dengan tepung tapioka,yang sama-sama dari ketela.Bedanya,tepung MOCAF tidak mengalami proses diperas seperti tapioka,tapi langsung dari ketela,dikupas,dirajang dan diberi enzym,dijemur dan kemudian ditepung.<span id="more-45"></span></p>
<p>Tepung MOCAF,temuan Dr.Ahmad Subagyo (alumni Osaka University,sekarang dosen Unej) ini sekarang bisa menggantikan posisi terigu yang masih impor itu. Dengan tepung ini,konsumsi terigu nasional bisa dihemat sampai 30%. “Itu kalau kita asumsikan kebutuhan terigu kita bisa digantikan MOCAF sebanyak 30%.Misal untuk mie nstan,roti,brownies,marie,bihun dan lain-lain,” ujar Dr.Ahmad Subagyo pada suatu kesempatan. Tak heran,jika popularitas MOCAF sebagai pangan alternative semakin dilirik banyak orang,tak terkecuali pemerintah pusat. Dalam hal ini,Deptan juga sangat antusias untuk mendorong tumbuhnya industrialisasi MOCAF yang pertama kali diproduksi di Trenggalek itu. Ini dibuktikan dengan hadirnya pejabat setingkat dirjen (satu digit dibawah menteri) untuk datang langsung ke Trenggalek.</p>
<p>Bahkan dari obrolan saya dengan pak dirjen,tidak menutup kemungkinan menteri Pertanian Anton Apriantono bisa dijadwal berkunjung kesini. “Sebab,kita memang tengah gencar mengkampanyekan diversifikasi pangan.Jadi,kita jangan tergantung hanya pada beras atau pangan yang telah ada.Seperti Mocaf adalah terobosan yang luar biasa bagi Indonesia.Mocaf seharusnya menjadi isu nasional,” ujar pria yang terkesan santun ini.</p>
<p>Pak Zaenal Bahrudin berkunjung ke pabrik Mocaf di Kerjo,Karangan,meninjau klaster di Kec.Suruh yang memproduksi barang setengah jadi,dan melihat dari dekat pembuatan mesin pengering dan slicer di Bengkel milik CV.Insan Sejahtera di Tugu,yang memproduksi seluruh sarana prasarana untuk klaster.Ikut dalam kunjungan ini tentu saja,Bupati Trenggalek didampingi para staf ,Dr.Ahmad Subagyo dan kawan-kawan dari Koperasi Gemah Ripah Lohjinawi yang memproduksi Mocaf ini.Juga dari PT.BCM (Bangkit Cassava Mandiri),mitra kerja Koperasi Gemah Ripah Lohjinawi. Oh,ya,juga hadir Ir.Supeno,ketua PPNSI (Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia) Cabang Jawa Timur dan staf Kepala Dinas Pertanian Jatim,pak Yudo.</p>
<p>Tentunya,industry berbasis potensi lokal kayak gini yang mesti disupport oleh pemerintah.Bagaimana pendapat anda? (Mulyono Ibrahim, Trenggalek,20 Nopember 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=45</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MOCAF Go Nasional</title>
		<link>http://mocaf-indonesia.com/?p=48</link>
		<comments>http://mocaf-indonesia.com/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 00:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mocaf-indonesia.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Modified Cassava Flour (MOCAF) sebagai tepung ketela alternatif pengganti terigu, kini telah go nasional. Beberapa waktu lalu, bupati Trenggalek mempresentasikan MOCAF dari sisi kemanfaatan industrialisasinya buat masyarakat miskin dan pedesaan.Presentasi di depan diskusi Bappenas di Aston Atrium itu direspon sangat positif oleh para pakar yang hadir. Bahkan, sang moderator menyatakan bahwa ini adalah alternatif pemecahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Modified Cassava Flour (MOCAF) sebagai tepung ketela alternatif pengganti terigu, kini telah go nasional. Beberapa waktu lalu, bupati Trenggalek mempresentasikan MOCAF dari sisi kemanfaatan industrialisasinya buat masyarakat miskin dan pedesaan.Presentasi di depan diskusi Bappenas di Aston Atrium itu direspon sangat positif oleh para pakar yang hadir. Bahkan, sang moderator menyatakan bahwa ini adalah alternatif pemecahan kemiskinan dan pembangunan pedesaan.<span id="more-48"></span></p>
<p>Sejauh ini MOCAF diproduksi di Trenggalek sebagai substitusi terigu. Telah berdiri Koperasi &#8220;Gemah Ripah Loh Jinawi&#8221; yang memproduksi MOCAF,dimana saat ini telah mencapai kapasitas 100 ton per bulan.Sebenarnya permintaan pasar saat ini adalah 1000 ton per bulan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mocaf-indonesia.com/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->